Fenomena citizen journalism yang antara lain ditandai dengan berkembangnya komunitas blog, sebuah paradigma baru di abad teknologi komunikasi , telah membawa gairah tersendiri. Siapapun tidak pernah membayangkan sebelumnya saat awal komunitas ini muncul. Memang bila dibandingkan dengan luar negeri, komunitas blogger Indonesia belum berkembang secepat mereka.
Kini setiap pengguna internet pada dasarnya bisa menciptakan media tersendiri. Mereka dapat melakukan semua fungsi jurnalistik sendiri, meulai merencanakan liputan , meliput menuliskan hasil liputan, mengedit tulisan, memuatnya dan menyebarkannya di bergabai situs internet atau weblog yang tersedia secara gratis. Artinya, semua orang yang memiliki akses terhadap internet sebenarnya bisa menjadi “jurnalis dadakan”, meski tentu saja kualiatas jurnalistik mereka masih bisa kita bedakan.
Aktivitas para pelaku citizen journalism tidak terkait secara profesi dengan medianya. Tanggung jawab moral dan etika praktik citizen journalism atau jurnalisme orang biasa secara implisit berada pada para pelaku dan peminatnya. Citizen journalism atau sering juga orang mendefinisikan sebagai journalisem dotcom merupakan penyiaran produk jurnalistik di media cyber. Kehadiran blog, menjadikan internet benar-benar diperhitungkan di dunia media. Citizen journalism membuka ruang wacana bagii warga lebih meluas.
Blog menjadi bagian dari proses komunukasi. Kegiatan pemberitaan yang beralih ke tangan orang biasa memungkinkan berlangsungnya pertukaran pandangan yang lebih spontan dan lebih luas dari media konvensional. Dalam citizen journalism, masyarkat menjadi objek sekaligus subjek berita. Setiap orang bisa berperan sebagai penulis, sekaligus mempublikasikannya, bahkan memungkinkan terjadinya komunukasi interaktif antara penulis dengan pembaca. Dapan di katakan bahwa citizen journalism ini lahir dari peradaban dan perkembangan teknologi. Citizen journalism hadir bukan sebagai bentuk persaingan media, tapi justru merupakan perluasan media.
Blog membawa warna baru dalam dunia jurnalisme, yakni lahirnya jurnalisme warga atau cittizen journalism . Kecepatan dna keterjangkauan terhadap fakta berita yang di lakukan kalangan masyarakat bukan wartawan tak kalah dari wartawan profesional. Berbagai video amatif tentang berbagai kejadian yang dilaporkan kalangan masyarakat tentang bergai peristiwa yang terjadi di sekitar lingkungannya, memiliki daya tarik tersendiri bagi para pembaca. Banyak stasiun televisi tanah air, yang mencoba mencari berbagai video amatir pada saat bencana terjadi, seperti peristiwa gempa di padang sumatra barat.
Situs beriga yang diisi oleh warga ini sendiri mulai berkembang saat berlangsung pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 1988. Ia muncul sebagai “perlawanan” terhadap pemberitaan media konvensional yang dianggap mengandung bias politik. Pelopor situs-situs semancam ini, antara lain, Jay Rossen, dosen University of New York. Ia berprinsip masyarakat dapat berperan aktif dalam mengumpulkan, menganalisis dan menyebarkan informasi. Prinsip ini kemudian di kenal sebagai jurnalisme warga alias citizen journalism. Dan gillmor yang keluar dari pekerjaanya yang mapan di mainstream media, sebagai komunis IT di San Jose Mercuri News, kemudian terjun untuk mengelola situs blog, dikenal sebagai pelopor grassroot media, participatory media, atau citizen journalism.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar