Sabtu, 24 Oktober 2009

kampanye humas

Jenis jenis kampanye humas

Ada beberapa jenis kegiatan kampanye yang umum dilakukan oleh humas. [2] yaitu:

  1. Kampanye produk (Product oriented campaigns) merupakan kegiatan kampanye yang berorientasi komersial, seperti peluncuran produk baru. Kampanye ini biasanya sekaligus bermuatan kepentingan untuk membangun citra positif terhadap produk barang yang diperkenalkan ke publiknya.
  2. Kampanye pencalonan kandidat (Candidate Oriented Campaigns) adalah kampanye yang berorientasi politik, seperti kampanye Pemilu dan Pilkada.
  3. Kampanye ideologi atau misi sosial (Ideological or Cause Oriented Campaigns) adalah kampanye yang bersifat khusus keagamaan, berdimensi sosial, atau perubahan sosial, seperti melaksanakan kampanye Anti Narkoba, Anti HIV/AID dan Pengentasan Kemiskinan.

Tahap perencanaan kampanye humas

Proses pengembangan tahapan pelaksanaan program kampanye humas secara keseluruhan meliputi

  1. penetapan tujuan
  2. publik sasaran (target)
  3. pesan-pesan yang efektif, baik dalam periode jangka panjang (strategi) maupun dalam berbentuk skala mikro (individual).

Jangka pendek (taktik)

Dalam pelaksanaan jangka jangka pendek dengan bertujuan khusus (taktik), kampanye humas dapat dilakukan melalui beberapa tahapan logis [3], yaitu:

Analisa

Program kampanye dimulai dengan analisis SWOT dengan mengidentifikasi unsur kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunity) dan ancaman (Threat). Dapat juga dilakukan analisis PEST (PEST analysis).

Tujuan

Dalam merencanakan kampanye humas ditetapkan sebuah tujuan yang realistis dari hasil akhir program kampanye yang hendak dicapai. Penetapan ini juga menentukan apakah kampanye dilaksanakan untuk tujuan jangka panjang (strategi) dan pendek (taktik pelaksanaannya) atau demi pencapaian tujuan lainnya.

Menurut Anne Gregory terdapat tujuh aturan emas dalam menetapkan tujuan utama kampanye humas (seven golden rules of objective setting), yaitu dengan mempertimbangkan:

  1. tujuan humas
  2. tujuan perusahaan
  3. tujuan khusus
  4. apa yang ingin dicapai
  5. mentapkan kuantitas (banyaknya)
  6. alokasi anggaran (berapa anggaran yang digunakan)
  7. membuat daftar prioritas kampanye.

Khalayak sasaran

James Grunig (1992) menyatakan terdapat tiga bentuk khalayak sasaran dari kampanye humas, yaitu:

  1. Khalayak tersembunyi yang sulit untuk dikenal keberadaannya (latent publics)
  2. Khalayak yang peduli serta mudah dikenali keberadaannya (aware publics)
  3. Khalayak aktif dan berkaitan dengan masalah dihadapi perusahaan (active publics)

Namun juga terdapat tiga bentuk khalayak yang berbeda dimana khalayak dinilai (dibedakan jenisnya) dipandang dari reaksinya terhadap isyu-isyu yang tengan berkembang, yaitu:

  1. Khalayak semua isyu (all issue public) jenis khalayak yang aktif menanggapi hampir semua isyu-isyu berkembang dan mempengaruhi kegiatan organisasi.
  2. Khalayak isyu tunggal (single issue public) jenis khalayak yang hanya bereaksi terhadap satu isyu-isyu yg menjadi perhatiannya.
  3. Khalyak isyu panas (hot issue public) jenis publik yg bereaksi terhadap kasus-kasus yang diangkat dan dihembuskan oleh media massa
  4. Khalayak apatis (apathetic publics) publik yg bersikap tidak peduli mengenai isu-isu yg terjadi disekitar kehidupannya.

Strategi

Strategi merupakan masalah pekerjaan yang tersulit dalam perencananaan program kampanye PR, karena strategi yg keberhasilan untuk pencapaian tujuannya, dalam panjang dan memerlukan program terencana, terkoordinasi yang melibatkan tim kerja, memiliki prinsip-prinsip, dan termasuk gagasan, kegiatan, alokasi dana besar serta dengan taktik pelaksanaan pencapaian tujuan program (tactical prorgramme) yang terukur secara rasional atau spesifik.

Taktik pelaksanaan

Taktik pelaksanaan (Tactics) harus dikaitkan dengan strategi utama (grand strategy), tujuan kampanye, dan tahap-tahap pelaksanaan program kampanye.

[ Kurun waktu

Kurun waktu (timescales) adalah elemen penting dalam kegiatan humas karena banyak kejadian dimana suatu perencanaan hingga implementasi tidak memiliki cukup waktu yang memadai untuk berkerja secara sepenuhnya. Kurun waktu juga menjadi penting saat pihak praktisi humas dalam beraktivitas menyadari bahwa diperlukan dukungan serta koordinasi elemen untuk melaksanakan pekerjaan secara faktual, dimana waktu yg tersedia sangat terbatas. Kurun waktu juga diperlukan saat mempersiapkan sumber daya (resources) yang dibutuhkan untuk melakukan sesuatu.

Penilaian (evaluasi)

Penilaian kegiatan program kampanye humas berupa tolok ukur pencapaian keberhasilan atau kegagalan kegiatan kampanye dalam jangka pendek atau jangka panjang. Didalam penilaian ini termasuk juga mengevaluasi pemanfaatan dan kegiatan program humas itu sendiri.

Peninjauan(review)

Peninjauan kembali dilakukan terhadap penilaian perencanaan, pelaksanaan program dan pencapaian tujuan kampanye yang berlangsung secara periodik. Analisa peninjauan termasuk keefektifitasan program tersebut dalam mencapai tujuan.


Catatan kaki

  1. ^ (en) Leslie B. Snyder (2002)
  2. ^ Charles U. Larson (1992)
  3. ^ (Gregory 1996:52-53)

media

Hubungan media (bahasa Inggris: Media relations) adalah aktivitas komunikasi yang dilakukan oleh individu ataupun profesi humas suatu organisasi untuk menjalin pengertian dan hubungan baik dengan media massa dalam rangka pencapaian publikasi organisasi yang maksimal serta berimbang (balance).

Hubungan media banyak dikaitkan dengan konteks pemberitaan yang tidak berbayar atau publisitas positif.

Dalam profesi humas hubungan media juga sering kali dipahami sebagai penanganan krisis dengan memberitakan tentang hal-hal positif tentang perusahaan saat perusahaan sedang dilanda berita negatif. Pada saat krisis cara terbaik penanganan hubungan media oleh humas adalah dengan mengakui dan memperbaiki kesalahan dengan menginformasikan usaha-usaha ke depan. Dalam hal ini baik media massa maupun humas dalam posisi saling memanfaatkan dan saling diuntungkan (simbiosis mutualisme).

Contoh pemanfaatan media massa untuk kepentingan organisasi dan publisitas positif adalah liputan berita saat Fraksi PDIP DPR mengembalikan total uang insentif legislasi sebesar Rp 3,4 miliar [1]. Perhatikan bahwa hal ini bisa dilakukan tanpa liputan berita, namun dengan diliput berita maka kejadian ini menimbulkan citra positif untuk organisasi dan disaat yang sama media massa mendapatkan berita.

Tujuan

  1. Untuk memperoleh publisitas seluas mungkin.
  2. Untuk memperoleh tempat dalam pemberitaan media (liputan, laporan, ulasan, tajuk yang wajar, obyektif dan berimbang mengenai ha-hal yang menguntungkan lembaga/ organisasi.
  3. Untuk memperoleh umpan balik dari masyarakat mengenai upaya dan kegiatan lembaga/ organisasi.
  4. Untuk melengkapi data/ informasi bagi pimpinan lembaga/ organisasi bagi keperluan pembuatan penilaian (assesment) secara teat mengenai situasi atau permasalahan yang mempengaruhi keberhasilan kegiatan lembaga/ perusahaan.
  5. Mewujudkan hubungan yang stabil dan berkelanjutan yang dilandasi oleh rasa saling percaya dan menghormati.

[sunting] Manfaat

  1. Membagun pemahaan mengenai tugas dan tanggung jawab organisasi dan media massa.
  2. Membangun kepercayaantimbl alik dengan prinsip saling menghormati dan menghargai kejujuran serta kepercayaan.
  3. Penyampaian/ perolehan informasi yang akurat, jujur, dan mampu memberikan pecerahan bagi publik.

Aktivitas hubungan media

Pengiriman siaran pers, menyelenggarakan konferensi pers, memformulasikan isyu penting di organisasi yang menarik untuk media, menyelenggarakan ramah tamah dengan media, menyelenggarakan kunjungan lapangan untuk pers, menyelenggarakan acara-acara khusus, wawancara khusus, menyediakan/ menjadi nara sumber media, monitoring pemberitaan media

Referensi